Cari Blog Ini

Sabtu, 11 April 2015

mBELING

Puluhan tahun bangsa ini mengutamakan formalitas, bukan kualitas dan integritas. Berpuluh tahun para pemimpinnya mengedepankan identitas (citra, pamor diri, sertifikat, label) dan menindas pribadi-pribadi yang berkualitas dan berintegritas. Sertifikasi (identitas dalam standar formalitas) pun menjadi komoditas tersubur bagi pengelola bangsa yang benar-benar menjunjung tinggi martabat keculasan. Nyaris seluruh bentuk sertifikasi di Republik Munafik ini merupakan formalitas belaka, bukan menjadi bukti atas suatu nilai yang pantas diraih hingga tersurat dalam sebuah sertifikat. Sedangkan formalitas itu sendiri bukan suatu prosedur berkualitas-berintegritas, melainkan identik dengan selembar barcode alias bernilai uang.

Bisnis formalitas-sertifikat sangat marak sebab sebagian masyarakat masih mudah diperdaya oleh tipu-muslihat para birokrat mengenai betapa pentingnya selembar bukti formal. Bukti formal bisa mendongkrak sebuah citra. Sebuah citra dianggap merupakan cermin jati diri, termasuk gengsi diri. Dengan citra, harga diri bisa melambung. Dengan melambungnya harga diri, melambung pula harga dirinya secara finansial. Finansial merupakan jantung sebuah bisnis, termasuk bisnis formalitas. Oleh karenanya dalam bisnis formalitas, uang/pembayaran menjadi penentunya. Nilai atas uji kelayakan bisa dibeli, dan keluarlah sertifikatnya. Alangkah mudah memperoleh bukti formalitas jika memiliki modal finansial sesuai dengan nilai formalitas yang diinginkan. Sementara sebagian orang merasa jantungnya bisa berdetak dengan mantap jika citra dirinya dapat tertuang secara formal dalam lembar sertifikat. Arti Tidak heran jika Dengan harga tertentu, sebagian lainnya “membeli” sertifikat formalitas, bukan berupaya sebaik mungkin mendapatkan kelayakan. Kejujuran digempur, digusur, dianggurkan, dan digugurkan.

Keculasan diunggulkan, diagungkan, dan didayagunakan semaksimal mungkin. Kepintaran hanyalah untuk memperkuat kubu keculasan seolah cula bagi seekor badak. Kotbah-kotbah di mimbar agama yang sudah bertebaran di media massa tidak lebih dari upaya memanipulasi realitas! Anak-anak bangsa berebutan mendapatkan formalitas demi sebuah identitas yang sangat prestisiusitas. Untuk mendapatkan itu, anak-anak bangsa berani membelinya karena para pengelola bangsa memang membisniskannya. Kualitas dan integritas pun tidak menjadi penting dan berstandar tinggi. Kemudian, ketika sebagian anak-anak bangsa tersebut berhasil mendapatkannya, lantas meneruskan tradisi bisnis formalitas-identitas seperti yang diajarkan oleh para pendahulunya. Formalitas tidak akan pernah menghasilkan orang-orang cerdas-berkualitas-berintegritas, melainkan orang-orang beridentitas serba culas. Formalitas pun merupakan komoditas yang tiada pernah terbatas pada waktu tertentu; mengalir deras dalam kepentingan orang-orang culas.

Dan orang-orang culas inilah yang mengelola bangsa ini, dan melestarikan formalitas sebagai sebuah komoditas yang lebih menggiurkan daripada minyak dan gas. Begitulah realitas di bangsa ini. Keculasan menjadi suatu karakter yang utama; keculasan menjadi bagian dari martabat. Semakin culas, semakin bermartabat. Tidak culas, tidaklah berguna bahkan membahayakan identitas orang-orang culas. Ya, kesannya, bangsa ini membutuhkan banyak sekali orang pintar, bukan orang jujur. Mudah-mudahan tulisan mbeling ini salah besar.

Sabtu, 13 Juli 2013

Mengapa Shalat Kita Sulit Khusuk

Shalat kita kadang tidak khusuk karena: Kita belum mengenal kecuali sebatas Tuhan, belum mengenal Sifat, Af'al dan Asma-Nya, Dia yang menciptakan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, semua yang kulihat, kudengar, yg bergerak, yang berada dilangit dan dibumi, semua dihidupkan-Nya "Al Muhyi" dan semua akan dimatikan-Nya "Al Mumiitu", semua tunduk dalam kehendak "Al Muriidu" dan kekuasaan-Nya "Al Qodiiru", Dialah yang mengatur semuanya "Ar Robbu", Dialah yang mengusai sekaligus memiliki semuanya "Al Maaliku" (QS3:26-27). Dia Maha Menatap "Al Bashiiru" tahu persis hati, pikiran dan lintasan pikiran kita & DIA Maha Mendengar "As Samiiu" mendengar gesekan daun, langkah semut dan rintihan hati hamba-Nya, Lantas sadarkah kita bahwa Dia yang segala-galanya yang kita hadapi dalam sholat selama ini? Bisakah hati dan pikiran kita lari saat sholat, sementara dia menatap hati pikiran kita? Sahabatku, coba camkan uraian diatas sebelum sholat dimulai, tambah konsentrasi agar kita tetap fokus. Kadang kita sulit khusuk dalam sholat karena: Belum faham makna, hikmah, keutamaan, bacaan dalam sholat, serta syarat dan rukun sholat, maka jadilah "sukaaro" sholat mabuk alias sholat tanpa rasa, tanpa pemahaman, tanpa penghayatan, tanpa keyakinan, hampa, seperti robot jasad tanpa ruh, "alkusaala" malah terasa beban, buru-buru pengen cepat selesai, senan gnya menunda-nunda waktu sholat, gerak sholatnya cepat seperti ayam matok, surah dan bacaan sholatpun komai kamit.

Sahabatku, simaklah Kalam Allah ini, "...Janganlah kalian menegakkan sholat, sedangkan kalian dalam keadaan mabuk, sampai kalian benar-benar faham apa-apa yang kalian baca dalam sholat kalian" (QS4:43).
Lihat orang mabuk berkata berbuat tetapi tidak sadar apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat, lihat orang sholat berdiri, bertakbir, baca ayat, ruku', sujud, tahiyyat dan salam, tetapi tidak sadar bahwa ia sedang berdiri, rukuk sujud menghadap pencipta langit dan bumi... tidak sadar bahwa ia sedang berdialog dengan pencipta dirinya, yang maha menentukan segala-galanya!. Mengapa sulit khusyu' dalam sholat? Karena kita tidak sadar bahwa sholat itu adalah "Almuhadatsah bainal makhluqi wa Khooliqi" dialog hamba kepada Kholiqnya, "Apabila salah seorang dari kalian sholat, sebenarnya ia sedang berkomunikasi dengan Allah" (HR Bukhori Muslim).

Coba perhatikan dari adzan, panggilan waktu menghadap-Nya, yang dipanggilpun yang ber-syahadat, "Asyhaaduallaa ilaaha illallah wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah", yang tidak beriman tidak dipanggil, karena itulah Rasulullah mengingatkan, "Yang membedakan kita dengan orang kafir adalah sholat, maka siapa dengan sengaja meninggalkan sholat maka sunggu ia sudah berperangai seperti orang kafir". Menutup aurat menghadap-Nya, menghadap qiblat karena memang fokus jasad ruh, hati pikiran kepada-Nya, apalagi berjamaah jadi rapi shof, dan seluruh duniapun satu arah qiblat, lalu bersuci karena memang menghadap maha suci, lalu berdiri tegap, takbir, membaca iftitah "inn wajjahtu wajhiyalilldzi fathoros samaawati wal ardho" hamba datang menghadap-Mu duhai pencipta langit dan bumi, tunduk patuh taat pada-Mu... inilah diantara komunikasi sholat yang belum difahami, lantas bagaimana khusuk tanpa kesadaran ini?
Sahabatku... berusahalah terus untuk bisa khusuk! Mengapa sulit khusyuk dalam sholat? Karena masih sedikit kita yang faham bahwa ketika sholat itu adalah proses komunikasi, tatkala membaca Alfatihah terjadi dialog seorang hamba dengan Rabbnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Barang siapa membaca surat al-Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah", lalu Rasulullah menyampaikan ketika seorang hamba berkata, 'Segala puji bagi Allah, tuhan seru sekalian alam". Allah menjawab, "Hamba-Ku telah memuji-Ku". Seorang hamba berkata, 'Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang". Allah menjawab, "Hamba-Ku memuji-Ku". Seorang hamba berkata, ''Raja di hari pengadilan". Allah menjawab, "Hamba-Ku mengagungkan Diri-Ku. Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku". Seorang hamba berkata, 'Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan". Allah menjawab, "Inilah pertengahan antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta Aku berikan". Seorang hamba berkata, 'Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau anugerahkan kepada mereka, bukan mereka yang kena murka dan bukan mereka yang sesat.' Allah menjawab, "Ini milik hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta Aku berikan". (Hadist Qudsi, HR Muslim).

 Karena itu sahabatku, mulailah membaca bacaan sholat pelan-pelan, penuh kesadaran dan keyakinan "Thuma'ninah". Sahabatku, sungguh Allah langsung menjawab setiap ayat yang kita baca... Sahabatku fillah, apakah ada diantara kalian yang masih sulit khusyuk dalam shalat? Mungkin saja berikut ini salah satu penyebabnya: Karena "hubbub dunya" sangat mencintai dunia, "the money is the first and the final of life, no money no happy" sehingga hati dan pikirannya selalu dipenuhi oleh segala sesuatu yang bersifat duniawi, duit, dolar, makan, minum, keluarga, target-target bisnis, berkhayal dan sebagainya. Itulah yang diingat-ingat dalam sholat, Rasulullah bersabda, "hatta yansa kam rok atan laka" sampai ia lupa sudah berapa rakaat ia sudah sholat", maka tidak heran saat sholat yang semestinya hati pikirannya fokus dalam sholat malah ingat dunia. Sahabatku, simaklah kalam Allah surah Al Maa'uun ayat 4 & 5, "celakalah orang-orang yang mengerjakan sholat yang hati pikirannya lalai kepada Allah". Lalai hatinya karena dunia "ball tu'tsiruunal hayaatad dunya" (QS 87:16).

Karena itu sadarilah hidup kita tidak lama di dunia yang fana ini, sholatlah seakan sholat terakhir dalam hidupmu, simaklah sabda Rasulullah, "Bila engkau melakukan sholat maka sholatlah kamu, seperti orang yang akan meninggalkan alam fana" (HR Ibnu Majah & Imam Ahmad).
Adakah diantara kalian yang masih sulit konsentrasi ketika sholat, mungkin salah satu penyebabnya adalah: Karena makan minum yang haram, baik secara zat "lizaatihi" seperti, anjing, babi, alkohol, narkoba dan sebagainya, atau cara mencarinya dengan cara haram, "linailihi", walaupun halal zatnya seperti makan tempe tahu halal tetapi karena cara mencarinya dengan berdusta, menipu, sumpah palsu, terima sogokan, korupsi dan sebagainya, maka tetap haram. Secara fisik ia makan Tempe atau tahu tetapi sebenarnya ia makan anjing dan babi, itulah yang disebut "rijsun min amalisy syaithon". Najis karena amalnya, atau "roddudzdzakaat" karena menolak zakat, maka hartanya bercampur dengan hak faqir miskin, kotorlah hartanya. Semuanya menjadi hijab hati dan hijab hubungan kepada Allah, walhasil sholatnyapun tidak diterima, Allah "Subbuuhun" maha suci hanya menerima yang suci. Ingat komentar Rasul pada orang yang menangis tatkala berdoa, "hampir saja aku mengira doanya diijabah Allah, namun Jibril memberitahuku bahwa orang itu suka menipu, lantas bagaimana Allah menjawab si penipu, pakaian dan makanannya dari hasil menzholimi orang lain?"

Sadarilah saat sholat, kita berhadapan dengan zat yang maha suci!! Jika kalian belum mendapat jawaban mengapa sulit khusyuk dalam sholat? Simak uraian berikut ini: Mungkin karena sholatnya masih disertai "Al fahsyau" berbuat maksiat seperti berdusta, mabuk, buka aurat, berjudi, berzina, dari zina mata melihat yang porno, tangan meraba, pikiran berkhayal sampai zina kemaluan "adzdzunuubu kaafilatul quluubi" dosa dosa ma'siyat itu menjadi "cover" penutup hati. Alwaqi, guru imam Syafii' berkata, "nurullahi la yuhda lil a'shi", sungguh cahaya nur hidayah Allah tidak akan masuk pada hati yang tertutup gelap karena maksiat.

Inilah kebanyakan yang terjadi pada "tukang sholat" bukan "Penegak Sholat", STMJ Sholat Terus Maksiat Jalan, ritual rutinitas tanpa disertai amal yang berkwalitas, hasilnya lagi-lagi kosong, tidak ada "atsar" pengaruh, ini sekaligus menjadi jawaban mengapa ada orang sholat tetapi sulit khusyu' Bagaimana bisa khusyuk kalau maksiat jalan terus. Imam Ghazali berkata, "Sungguh, sekali dusta sudah cukup membuat sholatnya terhijab kepada Rabbnya. Saudaraku yang Seiman, SubhanAllah, maafkan kalau yang aku sampaikan ini membuat kalian tidak nyaman, mudah-mudahan Allah terus membimbing kita dengan hidayah-Nya sehingga semakin dekat dengan kematiaan semakin baik ibadah sholat kita...aamiin.

Jika hati kita tidak bersih, memang sulit untuk konsentrasi sholat. Inikah diantara yang membuat kaliat sulit khusuk ketika sholat? Karena sholatnya disertai "al mungkar", berbuat zholim, menganiaya, menipu, menggunjing, memfitnah, merendahkan orang lain, menghina, memukul apalagi sampai membunuh orang lain. Itu semua akan menjadi hijab besar, karena Allah hanya menerima ibadah yang membuat hamba itu menghinakan diri dihadapan-Nya dan yang membuat dirinya rendah hati. Sholat kalian akan dianggap dusta kalau tidak memperhatikan yatim piatu dan faqir miskin (QS 107:1-3).
"Cuek, masa bodoh, pelit, emangnya gue pikiran" dan sebagainya sudah cukup dianggap pendusta sholat, pendusta agama apalagi sampai berbuat aniaya, dan ini semua bukan akhlak hamba Allah yang sholat, orang sholat itu belas kasih, santun, pemaaf, murah senyum, dermawan dan rendah hati, sungguh mulia akhlak hamba yang khusuk sholat itu sahabatku..

Mengapa sulit khusuk dalam sholat?
Karena "goirul isti'daadi" tidak mempersiapkan diri secara maksimal menghadap Allah, seperti pakaian kurang bersih, kurang rapi padahal ada pakaian bersih dan rapi, mukena yang bau apek atau badan yang masih kotor padahal masih bisa membersihkan, atau tempat ibadah kurang bersih, atau dengan sengaja mengulur waktu sholat.
Imam Ghazali berkata, "Siapa dengan sengaja mengulur waktu sholat tanpa alasan yang dibenarkan secara Syar'i maka sungguh setengah kekhusukan telah hilang dari sholatnya". Berarti orang yang memperhatikan sholat diawal waktu itu sungguh telah meraih setengah kekhusukan. Kemudian membiarkan diri tidak faham sholat dengan tidak mau meningkatkannya untuk belajar, akhirnya sholat hanya sekedarnya maka hasilnyapun sekedarnya, tidak heran sholatnya tidak berpengaruh dalam kesehariannya.
Sahabatku, tentu sangat beda hasilnya mereka yang sungguh-sungguh belajar dan mempersiapkan diri untuk sholat dengan yang sekedarnya, atau malas sholat.

Selasa, 08 Januari 2013

Ujian Kejujuran

Kejujuran adalah moral utama manusia beriman. Entah akan beresiko menjadi beruntung ataupun sebaliknya, seharusnya prinsip berlaku jujur harus ditegakkan. Apapun hasil yang diterima.

Sangat mungkin terjadi, seorang mahasiswa yang jujur kepada dosennya bahwa ia telah melakukan menyontek. Akan diberikan ucapan atas kejujuran tetapi tetap saja menjadi tidak lulus, karena dalam kontrak pengajaran memang sudah disepakati. Yang nyontek maka tidak lulus.

Seorang pedagang berlaku Jujur. Dagangannya malah menjadi kurang laku dan dia tidak disukai penjual sekitarnya. Padahal kalo dia mau ikuti kebiasaan pedagang lainnya, ia akan membawa untung yang lebih banyak.

Seorang Polisi sederhana yang jujur. Dia tidak disukai rekan-rekan sejawatnya, karena tidak mau terlibat dalam usaha-usaha yang berbau korup. Padahal jika dia mau ikut saja atau minimal menyetujui kekotoran itu, maka uang dan harta akan mudah mengalir.

Sobat, jujur terkadang memang tidak nyaman. Tetapi melahirkan ketentraman. Jujur sering dihadapi dengan hati yang ‘sulit’ terutama ketika bertemu situasi dengan pilihan instant untung rugi, dipuji dimarahi dan berbagai kondisi yang tidak mengenakkan.

Membaca dan merenungi ayat dibawah ini, QS. At Taubah (9) : 118. Mengingatkan diri kita, bahwa sebuah kejujuran tidak harus selalu beruntung tetapi butuh proses panjang untuk memperoleh ujung yang membahagiakan. Dan itu adalah bagian dari seleksi ujian dari Allah, sehingga akan ter-eliminasi orang-orang yang tidak serius dalam beriman, palsu dalam bertaubat.
Dan akan melahirkan pribadi-pribadi istimewa yang benar-benar tangguh dalam menggengam sifat-sifat wajib manusia beriman, dimana Kejujuran adalan salah satunya. وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Dan terhadap tiga orang[665] yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, Padahal bumi itu Luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.
Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [665] Yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi’. mereka disalahkan karena tidak ikut berperang. Inilah kisah sahabat yang mulia tersebut : Ka’ab bin Malik adalah salah seorang sahabat Nabi yang mendapat anugerah Allah berupa kepiawaian dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan. Kemampuan sebagai penyair ini, mengantarkannya menduduki posisi khusus di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, yaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Ka’ab bin Malik termasuk pemuka sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan kunyahnya (panggilan) Abu Basyir. Kisah kejujuran Ka’ab bin Malik ini, berawal saat Rasulullah telah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Beliau memobilisasi para sahabat untuk tujuan itu. Kaum rnuslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.

Di tengah kesibukan kaum muslimin melakukan persiapan, ada seorang sahabat yang belum memulainya. la bernama Ka’ab bin Malik. Kali ini, Allah hendak mengujinya dengan perang Tabuk. Pada masa tuanya, Ka’ab bin Malik menuturkan kisahnya kepada putranya : “Aku tidak pernah absen dalam satu peperangan pun bersama Rasulullah kecuali dalam perang Tabuk dan perang Badr. Tatkala Rasulullah berangkat bersama pasukan, aku masih terlambat dan belum sempat melakukan persiapan. Batinku berharap, aku bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahku benar- benar terhambat. Kesedihanku bertambah, ketika aku tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya”. Saat Rasulullah tiba di Tabuk, Beliau bertanya: “Apa yang terjadi dengan Ka’ab?” Seorang laki-laki dari kaumku dengan kiasan menjawab,”Baju kesayangannya telah menahannya”. Namun Mu’adz menangkisnya,”Sungguh buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali baik saja”. Rasulullah terdiam. Ketika Rasulullah, kembali dari peperangan, orang-orang yang absen segera menemui Beliau, untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlah mereka delapan puluh orang lebih. Rasulullah pun menerima alasan-alasan mereka dan memohonkan ampun bagi mereka. Sempat terbesit dalam benakku untuk mengajukan alasan dusta kepada Beliau, agar aku selamat dari kemarahan Beliau. Namun kuurungkan niatku dan kubulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Beliau. Aku mengucapkan salam kepada Beliau, Beliau tersenyum kecut kepadaku. Beliau berkata,”Kemarilah!” Aku pun mendekat dan duduk di hadapan Beliau. Beliau bertanya kepadaku,”Apa yang menahanmu? Bukankah engkau telah mempertaruhkan punggungmu?” Aku menjawab,”Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, lantaran aku ahli berjidal (pandai bicara). Namun aku sungguh mengetahui, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepada engkau. Aku mengatakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu.” Beliau berkata,”Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu,” aku pun berdiri dan meninggalkan Beliau. Sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejarku seraya berkata,”Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan dosa sebelum ini. Mengapa engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh, permohonan ampun Rasulullah untukmu akan menghapus dosamu.” Mereka terus membujukku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah dan berdusta kepada Beliau. Aku bertanya kepada mereka,”Adakah orang yang mengalami hal yang sama sepertiku?” Mereka menjawab,”Ada! Dua orang laki-laki yang mengatakan alasan seperti alasanmu. Dan Rasulullah mengatakan perkataan yang sama kepada mereka, seperti yang Beliau katakan kepadamu.” Aku bertanya,”Siapa mereka?” Mereka menjawab,”Murarah bin Ar Rabi’ Al ‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi.” Mereka adalah dua orang sahabat yang ikut dalam perang Badr dan pada diri mereka terdapat suri tauladan. Aku pun berlalu meninggalkan mereka. Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku. Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. “Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?” tanya hatiku. Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku. Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, “Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?” la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan. Aku berlalu. Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar itu bertanya kepada orang- orang: “Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?” Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu: “Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan rnenolongmu”. Aku berkomentar,”lni pun cobaan untukku,” lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku api. Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah dan para sahabat mengisolasi kami, tiba-tiba datang utusan Beliau dengan membawa perintah agar aku enjauhi istriku. Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kulakukan?” Sang utusan menjawab,’Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh.” Aku berkata kepada istriku, “Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.” Keadaan seperti itu terus berlanjut. Hingga tibalah suatu pagi selepas aku shalat shubuh. Kondisiku saat itu seperti yang ijak seakan tak kukenali lagi. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak: “Wahai, Ka’ab bin Malik! Berbahagialah!” Aku pun segera menghaturkan syukur dengan sujud kehadiratNya. Sungguh telah datang jalan keluar bagi kami. Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat Shubuh. Allah telah menerima taubat kami. Orang-orang berbondong-bondong menemui kami dan mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaanku saat itu. Aku memberikan dua baju yang kukenakan kepada laki-laki yang datang membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu, aku tidak memiliki baju selain kedua baju itu. Oleh karena itu, aku meminjam baju dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah. Saat itu Beliau dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku, kemudian ia menggamit tanganku dan menyalamiku seraya mengucapkan selamat untukku. Sungguh, tidak ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang ia lakukan, hingga aku pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu. Aku pun masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Saat itu wajah Beliau berseri-seri dan bersinar bak rembulan. Tatkala aku sudah duduk di depan Nabi, Beliau berkata: “Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu”. “Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?” tanyaku. Beliau menjawab, “Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari sisi Allah.” Aku berkata kepada Beliau: “Wahai, Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku, aku sedekahkan hartaku di jalan Allah”. Beliau berkata, “Tahanlah sebagian hartamu untuk dirimu, karena itu lebih baik bagimu.” Aku mentaati perintah Beliau dan berkata: “Kalau begitu, aku tahan anak panahku yang kugunakan dalam perang Khaibar. Dan sungguh Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran. Maka sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur”. Sungguh, aku tidak mengetahui ada orang lain yang mendapat ujian kejujuran seperti Allah mengujiku. Hingga sampai saat ini, aku tidak pernah bicara dusta satu kali pun sejak berjanji kepada Rasulullah. Dan aku morion kepada Allah agar menjagaku pada sisa umurku ini”. Demikianlah sosok Ka’ab bin Malik. Seorang mujahid di jalan Allah dengan pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang menyempitkan hatinya. Dijalaninya sisa hidupnya dengan selalu menggenggam kejujuran. Pada masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Dan putranya, Abdullah yang menjadi pemandu sejak Allah menghilangkan penglihatannya. Ka’ab bin Malik wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair Rasulullah ini. ***** Semoga sosok Ka’ab yang jujur , pemberani dan sabar menanggung resiko tersebut menular kepada bangsa ini. Bayangkan, alangkah mudahnya andai : Beliau berbohong saja, maka ia akan selamat (baca:sementara) seperti orang-orang munafik lainnya. Atau menerima tawaran dari utusan Raja Ghassan, bukankah akan dimulyakan jikalau dia mau berpindah kesana. TETAPI dengan SEMANGAT baja tetap memilih JUJUR, dan BERSABAR dalam menjalani proses TAUBAT dan memilih Allah dan Rasul-Nya sehingga selamat di Akherat dan di dunia. InsyaAllah. Apakah kita berani menirunya?? Salam Kerja Keras Selalu berfikir Positif Sukses untuk Anda

Sabtu, 24 November 2012

Terjebak Kebiasaan

Di dalam kehidupan ini sering kali kita terjebak pada suatu kebiasaan. Secara garis besar kebiasaan dibagi menjadi dua. Kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Tapi di sini tentu saya tidak akan memakai istilah “terjebak” untuk suatu kebiasaan yang baik. Karena, menjadikan hal-hal yang baik menjadi kebiasaan itu sangat sulit, sangat berat ujiannya dan sangat besar tantangannya. Kebiasaan-kebiasaan yang baik tersebut antara lain, menuntut ilmu agama atau mengaji dengan mengikuti kajian-kajian keislaman, melaksanakan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW, memperbanyak dzikir dengan mengingat Allah SWT, saling bersilaturahim, bermuamalah dengan akhlakul karimah dan lain sebagainya. Sedang kata terjebak dalam kebiasaan di sini, maksudnya terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Atau kebiasaan yang dinilai baik oleh manusia namun ternyata buruk di mata Allah SWT. Lho apa ada kebiasan-kebiasaan yang demikian ? Hal ini sudah di sinyalir Allah SWT dalam QS. Al Kahfi ayat : 103-106 قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا (١٠٣)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (١٠٤)أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (١٠٥)ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang Telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al Kahfi [18] : 103-106) Dalam ayat 103 Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menanyakan kepada ummatnya, apakah mereka mau ditunjukkan tentang ciri-ciri orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut : Pertama : orang yang paling merugi perbuatannya adalah orang yang melakukan amal perbuatan, kebiasaan-kebiasaan, yang mereka mengira bahwa apa yang mereka jalankan itu adalah hal yang sebaik-baiknya, akan tetapi di mata Allah amal-amal mereka itu sia-sia. (ayat 104). Mengapa sia-sia ? Kedua : karena mereka kufur dengan ayat-ayat Allah dan perjumpaan dengan Dia (hari Kiamat). Dalam melakukan amal-amal, perbuatan-perbuatan, kebiasaan-kebiasaan mereka mengkufuri, mengingkari, tidak mengindahkan apa yang digariskan dalam ayat-ayat Allah. Dengan kata lain, mereka melanggar ayat-ayat Allah. Mereka juga tidak mempercayai perjumpaan dengan Allah, atau hari kiamat. Sehingga dalam beramal mereka tidak menyadari bahwasannya Allah akan menilai segala amal dan perbuatan mereka. Sehingga orientasi amal-amal tersebut hanyalah keduniaan, hanya karena penilaian manusia, pujian manusia bahkan keuntungan-keuntungan yang sifatnya materialistis. Dengan demikian amal perbuatan dan kebiasaan yang mereka anggap sebaik-baiknya tersebut hapus, rusak, muspro karena Allah tidak menilainya pada hari Kiamat. (ayat 105) Ketiga, mereka menjadikan ayat-ayat Allah dan Rosul-Rosul sebagai olok-olok. Bisa jadi sebenarnya mereka juga mengetahui tentang ayat-ayat Allah dan sunnah Rosulullah. Tetapi apa yang diketahui dari Al-Qur’an dan As Sunnah itu tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, melainkan hanya sekedar bahan olok-olokan saja. Oleh karena itu balasan bagi mereka adalah neraka jahannam. (ayat 106) *** Dalam kehidupan ini ada tiga parameter tentang kebenaran. Pertama, bener-benere dewe, yaitu kebenaran hanya di ukur dengan dirinya sendiri. Kedua, bener-benere wong akeh, yaitu kebenaran yang diukur pandangan, pendapat, penilaian orang banyak. Ketiga, bener kang sejati, yaitu kebenaran yang diukur dengan nilai-nilai keIlahian (agama) الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. Al Baqarah [2] ayat : 147) Kebenaran yang sejati adalah datang dari Allah, yaitu ajaran agama Islam. Dan tidaklah dinamakan agama Islam jika tidak berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Oleh karena itu sesuatu perbuatan, amalan, kebiasaan meskipun dinilai secara pribadi dan masyarakat baik dan benar, namun dalam kacamata agama belum tentu baik apalagi benar. Sesuatu amal perbuatan dan kebiasaan bisa dikatakan baik dan benar jika sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah. *** Jangan Terjebak Kebiasaan Memang kalau sudah menjadi kebiasaan itu enak. Tetapi sebagai orang mengaji yang menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, harus bisa menilai apakah kebiasaan ini sesuai dengan tuntunan agama atau tidak. Jika kebiasaan itu sesuai dengan tuntunan agama maka bisa dilanjutkan, bahkan dilestarikan. Jika kebiasaan itu kurang pas dengan agama, bisa disesuaikan. Dan jika kebiasaan itu bertentangan dengan agama, baik secara syariat maupun aqidahnya, maka harus ditinggalkan. Sedang terhadap kebiasaan yang sudah berjalan di masyarakat, baik itu dilakukan secara pribadi, keluarga, maupun masyarakat luas, jika kita belum tau ilmunya maka hendaklah kita tidak mengikuti sebelum mengetahui ilmunya dengan jelas. Meskipun kebiasaan itu nampaknya baik, nampaknya benar, bahkan kental dengan nilai-nilai keislaman. Jangan sampai hanya karena mengikuti kebiasaan yang sudah ada kita terjebak pada kebiasaan yang kita belum tahu ilmunya, atau mungkin memang tidak ada ilmunya sama sekali, tidak ada dasar/dalil yang dapat dijadikan landasan hukum yang kuat. وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Israa’ [17] ayat 36) Jika sudah dianggap “BIASA” Sekarang ini terjadi pergeseran nilai tentang sesuatu dianggap biasa dan tidak biasa. Misalnya tentang pakaian yang tidak menutup aurat. Dahulu kalau ada wanita memakai rok mini atau baju you can see dianggap tidak biasa, tidak sopan, dianggap wanita nakal, binal, bahkan pakaian-pakaian seperti itu identik dengan pakaian – maaf agak kasar – pelacur. Dulu kita bisa membedakan mana wanita baik-baik dan wanita-wanita yang sedang mangkal mencari obyekan ketika mereka sama-sama berdiri di pinggir jalan. Tetapi sekarang sudah sulit membedakannya. Kalau sekarang kita merasa prihatin dengan cara berpakaian wanita yang mengumbar aurat, orang lain akan berkomentar : “Sekarang pakaian seperti itu sudah biasa”. Padahal dampak yang diakibatnya sangat fatal baik bagi diri wanita tersebut maupun bagi laki-laki yang tidak mampu menahan syahwatnya. Dahulu, jika ada gadis hamil sebelum nikah, sudah dipandang sebagai aib, baik bagi si gadis, laki-laki yang menghamili, keluarga dan masyarakatnya. Tapi kini sudah dianggap biasa. Bahkan kalau ada remaja yang berusaha membentengi dirinya dari pergaulan bebas, karena takut akan terjerumus ke dalam dosa yang besar, sehingga dia tidak punya teman berkencan atau pacar, justru dianggap ketinggalan zaman. Na’udzubillah. Masih banyak lagi dosa-dosa yang sudah dianggap biasa. Oleh karenanya kita harus rajin mengaji Al Qur’an dan Assunnah agar diri kita tidak terjebak pada kebiasaan-kebiasaan yang menjerumuskan kita ke dalam neraka Jahannam. *** Ada cerita tentang seorang musafir yang datang dari negeri Arab ke tanah Jawa. Sampai di Jawa, musafir tersebut membutuhkan seekor kuda sebagai kendaraannya. Dia membeli seekor kuda kepada orang Jawa. Setelah terjadi kesepakatan di antara keduanya, musafir tersebut segera menaiki kudanya. Baginya syariat membaca basmallah setiap memulai sesuatu dan membaca alhamdulillah ketika menyudahinya sudah menjadi kebiasaan. Musafir itu pun naik kuda dengan membaca basmallah untuk menjalankannya. Tapi ajaib, kuda tersebut tidak mau berjalan. Dia kembali turun, dengan marah-marah ia protes kepada penjualnya. Akhirnya penjualnya menerangkan, bahwa untuk menjalankan dan memberhentikan kuda tersebut ada passwordnya. Kalau menjalankan bacalah ALHAMDULILLAH dan kalau menghentikan bacalah BISMILLAH. Musafir kembali menaiki kudanya, kemudian membaca Alhamdulillah, kudanya mulai berjalan. Dia senang dalam dan mengucap bersyukur alhamdulillah, sehingga kudanya makin kencang lajunya. Semakin banyak ia baca alhamdulillah kudanya makin kencang lajunya. Hingga akhirnya ia sadar di depannya ada jurang yang dalam. Dia panik dan lupa cara menghentikannya, kini keselamatannya terancam. Akhirnya dia ingat dan langsung membaca, BISMILLAH !!! Mendadak kuda berhenti tepat di bibir jurang.

Minggu, 12 Agustus 2012

ISLAM AGAMA TAUHID

QS Surah Al-Imran surat ke 3 ayat ke 19-20 yang artinya : Sesungguhnya Agama disisi Allah ialah Islam, tidakkah berselisih orang-orang yang telah diberi kitab, kecuali setelah memperoleh ilmu karena kedengkian diantara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah maka sungguh Allah sangat cepat Perhitungan-Nya Kemudian jika mereka membantah engkau ( Muhammad) katakanlah “Aku berserah diri kepada Allah dan demikian pula orang-orang yg mengikutiku”, Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang-orang yang buta huruf “sudahkan kamu masuk Islam?” jika mereka masuk Islam berarti mereka telah mendapat petunjuk tetapi jika mereka berpaling maka wajib/kewajibanmu hanyalah menyampaikan dan Allah maha melihat hamba-hambanya Bapak Ibu yang dirahmati Allah SWT Sebagai orang yang memeluk agama Islam kita tidak boleh berpuas diri dengan menyandang predikat seorang Muslim. Karena keislaman seseorang tidak cukup untuk dapat menurunkan pertolongan Allah dalam kehidupan kita di dunia ini. Keislaman juga belum tentu bisa menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Hanya orang-orang yang beriman sejati yang mendapatkan semua janji2Nya yaitu kebahagian dunia dan akhirat. Adapun kriteria atau ciri-ciri orang-orang beriman yang sering dipanggil Allah dengan mesra “…yaa ayyuhal ladzina aamanu…..” ? Allah yang Maha Pengasih telah menyebutkan di dalam Al Quran surat Al Anfal surat ke 8 ayat ke : 2-4 yang artinya Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. Bapak Ibu yang dirahmati Allah SWT : Dari Ayat diatas cukup jelas rasanya bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang paling sempurna di sisi Allah Swt dan bahkan masih banyak lagi ayat-ayat lain di dalam Al-Quran tentang kebenaran Islam yang dapat kita pelajari. Untuk ini alangkah baiknya kita sebagai umat muslim menyadari kondisi diri kita saat ini dimana kita harus mengenal jati diri kita sebagai orang muslim. Apakah kita sudah pantas disebut seorang muslimin atau muslimat, apakah kita sudah berusaha semaksimalnya mejalankan perintahnya dan menjahui semua yg dilarang Allah SWT telah menurunkan kitab suci Al-Quran melalui rasulnya nabi besar Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia “Huzdalinaz” juga sebagai pembeda Alfur-qan, Al-Quran tidak cukup hanya dibaca karena Al-quran diturunkan bukan semata mata sebagai alat untuk mengumpulkan amal, tapi jelas sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di dalam kitab suci Al-quranlah semua yang diperintahkan dan semua yang dilarang oleh Allah SWT, dan kita umat muslim tidak perlu meragukan kebenarannya karena Al-Quan itu La-aroibafi tidak ragu-ragu. Bapak Ibu yg di rahmati Allah SWT, Kehidupan kaum muslim di Indonesia saat ini pada umumnya banyak dipengaruhi oleh sejarah masa lalu dan budaya tinggalan nenek moyang yang notabene banyak budaya yg tidak sesuai dengan tuntunan Al-Quran yang pada akhirnya lebih mengikuti budaya daripada akidah yang sebenarnya, dan di zaman sekarang ini ditambah orang lebih mudah dipengaruhi oleh berita-berita di Koran atau media lain dari pada Kitab suci Al-Quran, terbukti Koran menjadi satu kebutuhan setiap hari, sementara Al-Quran hanya dibaca ketika bulan ramadhan mulai tiba Bapak Ibu yg dirahnati Allah SWT Dalam Al-Quran surat Al-fatihah ayat ke enam berbunyi Ihdinas shitahal-mustaqim yg berarti tunjukkanlah kami kejalan yang lurus, dan jalan yang lurus tersebut adalah Al-Quran, ikutilah Al-Quran maka tidak akan tersesat Jadi tidak terlalu berlebihan rasanya jika dibulan ramadhan th 1433 hijriyah ini kita jadikan sebagai titik balik kita umat muslim untuk melakukan instrofeksi diri, mengenal diri kita yg sebenarnya kemudian melakukan evaluasi terhadap keIslaman kita yang selanjutnya melakukan perubahan secara menyeluruh untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dengan meningkatkan ibadah kita serta lebih meningkatkan mengkaji Al-Quran serta memperbaiki hubungan kita dengan sesama. Marilah kita masuk islam secara kafah karena Islam merupakan pilihan pedoman kita yg paling tepat untuk hidup di dunia dan di akherat, maka jangan setengah setengah, ambil segala resiko yang akan timbul sebagai konsekwensinya dengan berpedoman pada Al-Quran dan al hadist Semoga kita semakin istiqomah dan menjadi umat yang dikasihi oleh Allah SWT Demikan yang bisa saya sampaikan banyak kurangnya dari saya pribadi dan semua kebenaran datangya dari Allah SWT

Selasa, 13 Maret 2012

Mensyukuri Hidup

Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada supir pribadinya, “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Si supir menjawab, “Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.” Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?” Supirnya menjawab, “Begini, Pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan.”

Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.

Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah menjadi ‘kaya’ dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ‘kaya’. Orang yang ‘kaya’ bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

Seorang pengarang pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu.” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”



Kepandaian tiada berarti tanpa kepedulian,
Kesuksesan materi tiada berarti tanpa hati nurani.
Maju-mundurnya perusahaan ada di tangan anda sekalian.
Pengin naik gaji, bekerjalah dengan baik dan benar!


Salam Kerja Keras..!
Selalu Berfikir Positif..!!!
Sukses Untuk Anda

Rabu, 10 Agustus 2011

Kesalahan Orang Berpuasa


Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah meringankan hati kita dan memudahkan langkah kita bertemu dalam majelis ini. Semoga keselamatan dan kedamaian tercurah kepada nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat yang mulia, serta penerus risalahnya hingga hari akhir nanti.

Saudaraku,
Sesungguhnya setiap ibadah mempunyai dua potensi yang selalu beriringan satu sama lainnya. Satu sisi sebuah ibadah mungkin akan menjadi ladang pahala kita yang akan kita panen di kampung akhirat nanti. Tapi sisi lain, jika kita tidak memenuhi syarat, adab dan rukunnya bisa jadi sebuah ibadah justru menjadi fitnah bagi kita di hari akhir nanti. Naudzu billah min dzalika ...
Contoh yang paling jelas dalam masalah ini terdapat dalam sebuah ayat yang sudah sama-sama kita hafal bersama, dalam surat al-Maun disebutkan ancaman Allah SWT kepada orang-orang yang shalat. Allah berfirman dalam kitabnya yang mulia :
“ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya” (QS Al Maun 3)
Ayat di atas begitu lugas mengingatkan pada kita bahwa sholat bisa menjadi fitnah dan ancaman di akhirat nanti saat kita menjalankan tidak sesuai aturannya.

Saudaraku,
Lalu bagaimana dengan ibadah puasa Ramadhan kita ? Apakah ada ancaman tentang puasa yang kita jalankan ? Sungguh setidaknya ada dua dalil yang juga mengingatkan kita dengan gamblang tentang bahayanya orang berpuasa jika tidak memenuhi adab dan aturannya. Dalil pertama, Rasulullah SAW telah memberikan prediksi bagaimana banyak orang yang berpuasa tanpa hasil apapun keculai hanya lapar dahaga. Beliau bersabda dari lisannya yang mulia :
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ.

“ Betapa Banyak Orang berpuasa tapi tidak mendapat (pahala) apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar, dan betapa banyak orang yang sholat malam (tarawih) tapi tidak mendapatkan apa-apa selain begadang saja” (HR An-NAsai)

Dalil di atas seharusnya menjadi warning atau peringatan dini bagi kita dalam meniti hari-hari Ramadhan kita, agar tidak termasuk golongan yang celaka dalam arti berpuasa tanpa pahala. Peringatan berikutnya adalah dalam lafadz doa Jibril alaihissalam, dimana ia mendoakan keburukan kepada mereka yang mendapati Ramadhan tapi tidak mendapat ampunan dari Allah SWT. Diriwayatkan dalam hadits yang panjang :

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin” (HR Ibnu Khuzaimah dishahihkan oleh Albani )

Naudzu billah tsumma naudzu billah ... ibaratnya dalam pepatah bahasa kita, sudah jatuh tertimpa tangga. Tidak mendapatkan ampunan dalam ramadhan sudah merupakan musibah luar biasa, belum lagi ditambah doa laknat dati Jibril alaihissalam yang diaminkan oleh Rasulullah SAW yang mulia ..!. Semoga kita tidak termasuk dalam dua golongan yang disebutkan dalam dua hadits yang saya sebutkan di atas.

Saudaraku,
Rasanya menjadi penting bagi kita untuk mengetahui mengapa orang yang berpuasa bisa mendapat kecelakaan yang sedemikian buruk semacam itu. Setidaknya ada empat kesalahan orang berpuasa yang bisa menjerumuskan mereka dalam dosa dan kehinaan, mari bersama merenungkannya.

Pertama : Mereka yang berpuasa tanpa keikhlasan
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang sudah sangat populer di telinga kita : Innamal a’maalu binniyaaat. Yaitu : Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya ....( HR Muttafaqi Alaih). Maka berpuasa tanpa keikhlasan ibaratnya surat perjanjian tanpa stempel dan materai, menjadi tidak berlaku dan sia sia begitu saja. Pertanyaannya adalah, puasa semestinya melatih orang untuk ikhlas, karena ia merupakan ibadah antara seorang hamba dan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda: “Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya, (H.R. Bukhari).

Tapi sungguh sayang sekali, ternyata masih ada yang ternoda keikhlasannya dalam berpuasa karena godaan riya, harta maupun kecenderungan diri pribadi. Puasa diliputi riya, karena ingin dianggap, dihargai dan dipuji orang lain sebagai orang yang berpuasa. Bisa jadi karena ewuh pakewuh dengan mertua, atau takut dengan pimpinan di kantor, atau mungkin ingin eksis di tengah rekan sejawat. Semua itu sungguh meluruhkan pahala puasa yang mulia. Ada pula orang yang berpuasa karena mengincar harta, mungkin saja ini lebih banyak terjadi pada anak-anak kita yang mengidamkan hadiah dari para orangtua saat lebaran nanti, karena mampu menyelesaikan puasa dengan sempurna. Selain itu, ada juga yang berpuasa dengan bersemangat, bukan karena kewajiban semata tetapi juga karena keinginan pribadi untuk diet dan menurunkan berat badan. Sungguh ini semua jika tidak dihapus dalam hati, akan mengotori keikhlasan puasa kita, dan kita terjerumus dalam golongan mereka yang berpuasa tanpa pahala.

Saudaraku,
Yang kedua adalah mereka yang berpuasa tanpa ilmu. Tidak mengetahui mana yang membatalkan dan mana yang tidak. Maka mereka menjalani puasa tanpa aturan, atau memahami tidak dengan sepenuhnya benar. Akibatnya, puasa mereka menjadi begitu rapuh dan tanpa makna. Menyangka telah melakukan hal yang benar padahal sejatinya salah. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda :“seorang faqih (ahli ilmu agama) lebih ditakuti syetan dari pada seribu ahli ibadah (tanpa ilmu) “. (HR Ibnu Majah).
Maka marilah meningkatkan kualitas ibadah puasa kita dengan memahami sepenuhnya hukum-hukum seputarnya. Mari terus membaca, mengkaji dan bertanya, agar bisa menjalankan seluruh rangkaian ibadahnya dengan keyakinan yang nyaris sempurna.

Saudaraku
Golongan orang berpuasa yang celaka ketiga adalah mereka yang berpuasa hanya dari makan minum dan berhubungan badan semata, dan merasa bahwa dengan itu mereka sudah memenuhi semua ketentuan dan tuntutan puasa. Barangkali kita perlu mengingat lebih dalam himbauan rasulullah SAW berkaitan dalam masalah ini :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan berkata dusta dan beramal kedustaan, maka Allah SWT tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya” (HR Bukhori)
Mereka dalam masalah ini berpuasa tetapi tidak mampu menundukkan nafsu dan emosinya. Maka mereka menodai siang hari ramadhan dengan lisan yang tak terjaga dari ghibah, marah dan berkata dusta, atau anggota badan yang tidak terjaga dari dosa dan kemaksiatan.

Saudaraku,
Yang keempat adalah mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh kemalasan, dalam arti tidak menyadari kemuliaan bulan Ramadhan yang bertaburan berkah. Mereka tidak menyadari dan memahami bahwa Ramadhan bukan hanya bulan puasa saja, tetapi lebih dari itu ia adalah bulan musim kebaikan yang disyariatkan banyak amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda tentang bulan mulia ini : “(Bulan dimana) dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu. Dan berserulah malaikat : wahai pencari kebaikan, sambutlah. Wahai pencari kejahatan, berhentilah” (demikian) sampai berakhirnya ramadhan ( HR Ahmad)

Golongan ini berpuasa tetapi tidak menjalankan tarawih, tilawah dan tadarus. Tidak pula berusaha untuk bersedakah, memberi berbuka pada orang yang berpuasa. Atau tidak pula menyempatkan diri untuk i’tikaf dan amal kebaikan secara umum. Mereka hanya berpuasa dan menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan di siang hari, lalu makan pestapora di malam hari.

Akhirnya, semoga kita terhindar dari peringatan Rasulullah SAW tentang mereka yang berpuasa tapi sia-sia dalam pahalan dan keutamannya. Semoga Allah SWT menjaga kita agar tidak terjerumus dalam empat golongan mereka yang berpuasa tapi celaka. Wallahu a’lam bisshowab

Banyak kurangnya dari saya pribadi, ada benarnya dari Allah SWT

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Salam Kerja Keras..!!
Selalu berfikir positif..!!!
Sukses untuk Anda