Cari Blog Ini

Sabtu, 04 Juli 2015

Selama Puasa, Jangan Banyak Keluar Rumah

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh,

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ
 جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin yang berbahagia, Sumber terbesar kegagalan puasa yang kita lakukan adalah dosa dan maksiat. Seperti yang kita ketahui, dosa merupakan sebab pahala yang kita miliki berguguran. Ketika ramadhan kita penuh dengan dosa, puasa kita menjadi sangat tidak bermutu. Bahkan sampai Allah tidak butuh dengan ibadah puasa yang kita kerjakan. Semacam inilah yang pernah diingatkan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan yang lainnya, dari sahabat Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan semua perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh dengan amalnya (berupa) meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” Yang dimaksud “qauluz zur” adalah semua ucapan dusta, kebatilan, perkataan haram, dan yang menyimpang dari kebenaran. Sedangkan maksud “al-Amal bihi” adalah semua perbuatan yang dilarang oleh Allah. Demikian keterangan al-Hafidz al-Aini dalam Umdatul Qori (10/276).

Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Allah menyebut setiap perbuatan maksiat yang kita lakukan sebagai tindakan kebodohan. Karena yang namanya orang pinter, dia tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan dirinya. Bapak ibu bisa perhatikan, apa manfaat dari maksiat? Tidak ada, selain memuaskan nafsu. Allah berfirman di surat an-Nisa ayat 17,

 إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan maksiat karena kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Mujahid – ulama tabiin murid senior sahabat Ibnu Abbas – beliau mengatakan,


كُلُّ مَنْ عَصَى اللهَ فهو جاهل حتى ينزع عن الذنب
Semua orang yang bermaksiat kepada Allah maka dia orang bodoh. Keterangan beliau ini disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dan manusia, ketika semakin sering bertindak bodoh, dia semakin hina derajatnya. Karena itulah, ulama menyebut orang yang bermaksiat, sebagai orang yang membuat hina dirinya. Imam Yahya bin Abi Katsir – salah seorang ulama tabiin – pernah mengatakan,

 مَا أكْرَمَ العِبَادُ أَنْـفُسَهُم بِـمِثْلِ طَاعَةِ اللهِ وَلَا أَهَانَ العِبَادُ أَنْفُسَهُم بِـمِثْلِ مَعْصِيَةِ اللهِ
Tidak ada perbuatan yang membuat seorang hamba semakin memuliakan dirinya selain ketaatan kepada Allah. Dan tidak ada amalan yang membuat hamba semakin menghinakan dirinya selain maksiat kepada Allah. Keterangan beliau disebutkan Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya Muhasabatun Nafs. Hadhirin yang kami hormati, Saat ini kita hidup di zaman yang penuh dengan aurat.. dan barangkali, inilah sebab terbesar manusia bermaksiat. Hanya keluar 5 menit di keramaian, mungkin kita sudah bisa mendapatkan ratusan aurat dengan keaneka ragaman warna dan rasa. Dan itu semua terjadi ketika kita keluar rumah. Belum lagi dosa dengan sebab tidak bisa menjaga lisan, karena menggunjing orang lain. Karena itulah bapak ibu, Anda bisa terhindar dari banyak maksiat ketika di dalam rumah. Berbeda ketika keluar rumah, berjuta peluang maksiat menanti anda… baik anda yang menjadi sebab dosa atau korban dosa.. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan akan bahaya zaman fitnah.
Ketika sahabat bertanya, apa yang harus kami lakukan? Jawab beliau,
 كُونُوا أَحْلَاسَ بُيُوتِكُمْ
Jadilah manusia yang selalu menetap di rumah.. (HR. Ahmad 19662, Abu Daud 4264, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Sebaliknya, di rumah, anda bisa banyak beribadah. Membaca al-Quran, shalat sunah, dst. Jadikan rumah anda layaknya kuil, tempat untuk mendulang pahala. Sahabat Abu Darda’ pernah berpesan, نِعْمَ صَوْمَعَةُ الرَّجُلِ بَيْتُهُ ، يَحْفَظُ فِيهَا لِسَانَهُ وَبَصَرَهُ
Sebaik-baik kuil (tempat ibadah) bagi seseorang adalah rumahnya. Di dalam rumah, dia bisa menjaga lisan, dan pandangannya. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 35738, Az-Zuhd Imam Ahmad, 1/135).
Tentu saja ini tidak berlaku untuk ibadah dan kewajiban yang harus dilakukan di luar rumah. Seperti bekerja, shalat jamaah, kajian, dst. Kita memohon kepada Allah, semoga Allah memperbaiki lahir batin kita dan menjauhkan kita dari keburukan hati dan amal kita. Karena hanya dengan pertolongan-Nya, kita bisa selamat dari semua fitnah dunia.

يَاحَيُّ يَاقَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنـَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا اِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَينٍ‏
Ya Hayyu ya Qayyum, dengan rahmat-Mu kami memohon, perbaikilah semua urusan kami dan jangan Engkau pasrahkan kepada diri kami, sekejap matapun.

Semoga kita selalu dapat Istiqomah, amin

Kamis, 02 Juli 2015

Jangan Terlalu Cepat Untuk Segera Terjun Bebas Dari Puncak Ketinggian TAQWA


Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Amien
Pernahkan anda melihat seseorang bermain layang gantung (Gatole) atau juga orang-orang yang bermain sky es. Dengan susah payah mereka membawa segala peralatan untuk mendaki ke tempat-tempat yang tinggi, namun setelah mereka mencapai tempat yang tinggi segera kemudian bersukaria mereka terjun melayang layang di udara untuk menuju lembah-lembah dibawahnya. Demikian pula mereka para pemain sky, dengan susah payah mereka mendaki pegunungan es, dan setelah mencapai ketinggian, kemudian mereka meluncur menuju ke lembah-lembah dibawahnya, meluncur dengan keriangan yang luar biasa
.
Walaupun untuk dua olah raga ini di zaman ini sudah dilengkapi dengan kereta-kereta gantung, sehingga mereka sudah tidak lagi susah-susah mendaki, cukup mereka naik melewati kereta gantung menuju tempat peluncuran tertinggi dan kemudian mereka meluncur ke lembah-lembah yang lebih rendah dengan penuh keriangan dan kesenangan. Segala puji bagi Allah, Puasa Romadhon adalah salah satu sarana meningkatkan ketaqwaan, menuju jalan naik, menuju kedekatan kepada Allah Tuhan Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia.
Sebagaimana firmannya yang artinya :

Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, (QS. 70:1)

Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, (QS. 70:2)

(Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. (QS. 70:3)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS. 70:4)

Zaman modern, zaman penuh dengan godaan dan ujian iman. Zaman yang begitu licin, segala ibadah yang dikehendaki oleh Allah untuk meningkatkan ketaqwaan manusia, namun banyak yang gagal mencapai peningkatan, atau ada juga yang meningkat namun peningkatannya hanya sedikit. Karena derasnya godaan dan fitnah-fitnah dunia di zaman ini.
Bila dilihat dengan besarnya curahan nikmat yang Allah berikan kepada manusia, sesungguhnya Allah telah terus menerus mencurahkan Rahmatnya kepada manusia, agar manusia lebih mencintai jalan-jalan keimanan dan ketaqwaan dibanding jalan-jalan syaitan.
Bagaimana Ibadah puasa, larangan untuk makan, minum dan bersetubuh di siang hari, meninggalkan segala kekotoran indra dan kekotoran hati, untuk dibawa meningkat menuju kepada kebersihan dan kemuliaan hati dan kemudian tenteram didalam jalan utama, yaitu untuk selalu terang dalam melihat tanda-tanda keagungan Allah dan untuk selalu bertasbih mengagungkan-Nya.

Bila seseorang telah berhasil mendapat peningkatan keimanan dan ketaqwaan maka akan terasakan lezatnya menjadi manusia yang dapat melihat tanda-tanda keagungan Allah, dan hati mulai memiliki kemampuan untuk berpendirian. Pendirian untuk cinta menjalankan segala perintah Allah dan cinta untuk meninggalkan larangan Allah. Begitu kuatnya bukti-bukti iman di hati walaupun Allah tidak akan dapat dilihat dengan mata kepala. Banyak manusia yang menyangsikan keberadaan Allah dan menyangsikan bimbingan Allah yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nabi Ibrahim dan Nabi Musa pun memohon kepada Allah untuk mendapatkan bukti-bukti yang dapat di indera, sebagaimana firman-Nya yang artiny:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata:”Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati,” Allah berfirman:”Apakah kamu belum percaya” Ibrahim menjawab:”Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. Allah berfirman:”(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah burung-burung itu kepadamu, kemudian letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah dia, niscaya dia akan datang kepada kamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:260)

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:”Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman”. (QS. 7:143) .

Tidak ada yang dapat menolak keraguan dan meneguhkan keimanan manusia dalam zaman modern sekarang ini kecuali dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan mempelajarinya, menghayatinya, mengamalkannya dan terus menerus tekun di dalam pengamalan itu. Tekun menjalankan perintah Allah dan Tekun meninggalkan larangan Allah. Pelestarian suasana bulan Romadhon yang penuh dengan teguhnya pendirian untuk mewujudkan keimanan dan ketaqwaan perlu terus dipupuk di luar bulan Romadhon dengan puasa-puasa sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, antara lian seperti puasa 6 hari di bulan syawal, puasa senin kamis, puasa 3 hari di tengah-tengah bulan qomariah, puasa Daud, atau sehari puasa dua hari berbuka, puasa tanggal 9 dan 10 Muharam, puasa hari Arafah. Yang bila diamalkan dengan niat yang benar maka akan dapat menjaga keteguhan ketaqwaan yang telah digapai di bulan Romadhon.
Dengan melazimi amal-amal sunnah, Agama sebagai jalan terang kehidupan akan semakin kokoh merasuk kedalam hati dan semakin terasa sebagai sesuatu kebutuhan yang terus menerus agar tetap terus menerus merasakan nikmatnya curahan Rahmat Allah di sepanjang kehidupan. Generasi muda perlu semakin waspada, jangan sampai tanggal satu syawal 1433 H sebagai puncak pencapaian pendakian menuju tingginya keimanan dan ketaqwaan, dan kemudian sekaligus kemudian menjadi tempat awal meluncur, meluncur menurun menuju lembah-lembah kerendahan dengan tanpa rem dan kendali. Bulan Romadhon 1433 yang akan segera berlalu , sebelum berakhir, marilah kita berazam agar nikmatnya curahan Rahmat Allah yang immaterial, yang kita rasakan dengan sesungguhnya bertiup ke dalam batin-batin kita dengan penuh ketenangan, ketenteraman, kesejukan, kebahagiaan, kenikmatan, dapat kita pertahankan di bulan-bulan di luar bulan Romadhon Dan tidak ada kekuatan untuk memegang azam kita itu, kecuali dengan mengikuti jalan-jalan yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Dan jalan itu tiada lain adalah menelusuri kembali kebiasaan hidup Rasulullah Muhammad SAW selama 23 th, 2 bulan, 22 hari yang padat dengan bimbingan Malaikat Jibril untuk selalu mengkaji Al-Qur’an dan mengamalkannya sekaligus mendakwahkan kepada seluruh umat manusia. Jalan demikianlah yang akan dapat melestarikan dan menyuburkan iman yang telah kita gapai di bulan Romadhon Tahun ini.
Mari kita bersegera berbondong-bondong menuju majlis-majlis pengajian Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dilakukan dengan rutin, disiplin dan tertib, mari berbondong-bondong segera mengaji ke Majlis Tafsir Al-Qur’an . Wallahu a’lam

Rabu, 01 Juli 2015

Sepuluh Tanda Bila Ibadah Bulan Ramadhan Diterima Allah SWT

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:
Setelah mengerjakan setiap ketaatan dan ibadah baik itu umrah, haji, puasa, sholat, sedekah, atau amal shalih apapun kita mengulang-ulang bisikan Ali radhiallahu anhu saat berkata: (seandainya aku tahu, apakah amalanku termasuk yang diterima maka aku mengucapkan selamat untuknya, atau yang ditolak maka aku mengucapkan belasungkawa untuknya). Setelah mengerjakan setiap ketaatan kita juga mengulang perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu: (wahai yang diterima, selamat untukmu, wahai yang ditolak semoga Allah mengganti musibahmu). Sungguh Ali radhiallahu anhu telah berkata: (jangan kalian pedulikan amal yang sedikit, tapi pedulikan diterimanya amal tersebut), tidakkah kalian mendengar firman Allah Azza wa Jalla ketika berfirman: (Sesungguhnya Allah mengkabulkannya dari orang-orang yang bertakwa) [QS Al-Maidah:27].
Janganlah seperti sebagian kaum muslimin yang tidak peduli diterimanya ketaatan mereka, karena sesungguhnya diberikan taufik dan kemudahan untuk beramal shalih merupakan karunia besar, akan tetapi itu tidak akan terwujud kecuali dengan karunia lain yang lebih besar, yaitu nikmat diterimanya amalan. Jika seorang hamba mengetahui bahwa kebanyakan dari amalan bisa ditolak dari pelakunya karena banyak sebab, maka yang terpenting adalah mengetahui sebab-sebab diterimanya amalan, jika dia menemukannya dalam dirinya maka hendaklah dia memuji Allah Ta’alaa, dan beramal dengan teguh dan konsisten diatasnya, namun jika tidak menemukannya maka hendaklah hal pertama yang diperhatikannya dari sekarang adalah: mengamalkannya dengan sungguh-sungguh serta ikhlas karena Allah Ta’ala semata. Maka apakah sebab-sebab dan tanda-tanda diterimanya amalan?

 1- Tidak kembali berbuat dosa setelah melakukan ketaatan: Karena kembali kepada dosa merupakan tanda kebinasaan dan kerugian, Yahya bin Muadz berkata: ”barangsiapa yang beristighfar dengan lisannya sedangkan hatinya bertekad untuk bermaksiat, dan azamnya kembali kepada maksiat setelah sebulan dan kembali, maka puasanya tertolak darinya, dan pintu diterimanya amalan tertutup didepannya”. Kebanyakan manusia bertaubat sedangkan dia selalu mengatakan: sesungguhnya aku tahu bahwa aku akan kembali...jangan katakan seperti itu...tetapi katakan: Insya Allah saya tidak akan kembali. Dan memohon pertolongan kepada Allah dan berazam untuk tidak kembali lagi.

2-Takut jika amalannya tidak diterima: Allah Subhanahu wa Ta’alaa Maha Kaya dari ketaatan dan ibadah kita, Allah Azza wa Jalla berfirman: (Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia) [QS Luqman:12].

Dan Allah Ta’alaa berfirman:
 إن تَكْفُرُوا فَإنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ)[الزمر:7)
 Artinya: (Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu, dan Dia tidak meridloi kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridloi kesyukuranmu itu) [QS Az-Zumar:7].
 Dan seorang mukmin walaupun bersungguh-sungguh melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bermacam taqarrub, namun dia merasa sangat kasihan terhadap dirinya, dia takut amalannya tidak diterima, dari Aisyah radhiallahu anha berkata: (Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang ayat ini: (وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) [المؤمنون: [ 60 Artinya: (Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dari sedekah dengan hati penuh rasa takut) [QS Al-Mukminun: 60]. "Apakah mereka yang minum khamr atau mencuri?" Beliau berkata: (Bukan yang binti As-Shidiq ! akan tetapi mereka yang berpuasa, sholat, dan bersedekah, sedangkan mereka takut tidak diterima dari mereka, merekalah orang yang bersegera dalam kebaikan). Meskipun dia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah-ibadah mulia ini namun dia tidak mengandalkan usahanya maupun menunjukkannya kepada Rabbnya, tapi dia meremehkan amalannya, dan menampakkan kefakirannya yang sempurna kepada ampunan Allah dan rahmat-Nya, dan hatinya penuh dengan rasa takut jika amalannya ditolak, Waliyadhu billah, dia memohon kepada-Nya supaya amalannya diterima.

 3- Diberikan taufik melaksanakan amal shalih sesudahnya: Sesungguhnya tanda diterimanya ketaatan seorang hamba bahwa dia diberikan taufik untuk ketaatan sesudahnya, dan diantara tanda diterimanya kebaikan: mengerjakan kebaikan sesudahnya, karena kebaikan tersebut berkata: kebaikan lagi...kebaikan lagi. Dan ini termasuk rahmat Allah Ta’alaa dan karunia-Nya, bahwa Dia memuliakan hamba-Nya jika telah berbuat kebaikan, dan mengikhlaskannya kepada Allah maka Allah membukakan untuknya pintu kebaikan lain, supaya lebih dekat kepada-Nya. Maka amal shalih ibarat pohon yang baik, perlu disiram dan dipelihara, supaya tumbuh dan kuat, dan memberikan buahnya, dan hal terpenting yang kita perlukan adalah selalu menjaga amalan-amalan baik yang telah kita kerjakan, dan memeliharanya, dan menambahnya sedikit demi sedikit, inilah makna istiqamah yang sebenarnya.

 4- Menganggap remeh amalannya serta tidak ujub dan tertipu dengannya: Sesungguhnya hamba yang beriman berapa banyakpun dia beramal shalih, namun seluruh amalnya tidak menjadikannya bersyukur atas kenikmatan itu seperti kenikmatan pada jasadnya pendengaran, penglihatan, atau lisan dan lainnya, dan tidak merasa telah menunaikan hak Allah Ta’alaa, karena hak Allah diluar gambaran kita, oleh karena itu termasuk sifat orang-orang yang ikhlas mereka menganggap kecil amalan mereka, sehingga mereka tidak takjub dengannya, dan tidak terkena penyakit ghurur yang akan menghapus pahalanya dan membuatnya merasa cukup dan malas untuk beramal shalih lagi. Diantara hal yang dapat membantu kita menganggap kecil amalan kita adalah: mengenal Allah Ta’alaa, melihat nikmat-nikmat-Nya, dan mengingat dosa-dosa dan kelalaiannya.

Marilah kita merenungkan bagaimana Allah Ta’alaa berwasiat kepada Nabi-Nya dengan hal itu setelah memerintahkan kepadanya dengan perkara-perkara besar:
 يا أيها المدثر. قم فأنذر. وربك فكبر. وثيابك فطهر. والرجز فاهجر. ولاتمنن تستكثر).]المدثر: 1-6
Artinya: (Wahai orang yang berselimut. Bangunlah lalu berilah peringatan ! dan agungkanlah Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkan segala perbuatan yang keji. Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak) [QS Al-Mudatsir: 1-6].

Diantara makna ayat ini adalah seperti yang dikatakan oleh Hasan Al-Basri rahimahullah: jangan engkau ungkit amalanmu didepan Rabbmu untuk memperoleh pahala yang lebih banyak. Imam Ibnu Qayyim: (Setiap engkau menyaksikan hakikat Rububiyah dan hakikat Ubudiyah, dan mengenal Allah, dan mengenal dirimu sendiri, dan menjadi jelas bagimu bahwa barang dagangan yang engkau bawa tidak layak bagi Raja yang Haq, meskipun engkau datang dengan amalan seluruh jin dan manusia, engkau takut akibatnya, dan Dia hanya menerimanya karena kemuliaan, kedermawaan, dan karunia-Nya, serta memberikan ganjaran atasnya juga karena kemuliaan, kedermawaan, dan karunia-Nya) Madarijul Salikin (2/439).

5- Mencintai ketaatan dan membenci kemaksiatan: Termasuk tanda diterimanya amalan, Allah memberikan kecintaan dalam hatimu terhadap ketaatan, sehingga engkau mencintainya, tenang dan tenteram kepadanya.

Allah Ta’alaa berfirman:
 (الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ)(الرعد28 )
 Artinya: (orang-orang yang beriman hati mereka tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tentram) [QS Ar-Ra’d: 28].

Dan termsuk tanda diterimanya amalan adalah engkau membenci maksiat dan mendekatinya dan berdoa kepada Allah supaya menjauhkanmu darinya.

6- Berharap dan banyak berdoa: Sesungguhnya takut kepada Allah saja tidak cukup, karena harus dengan pasangannya yaitu berharap, karena takut tanpa berharap menyebabkan putus asa dari rahmat Allah, sedangkan berharap saja tanpa takut menyebabkan rasa aman dari siksa Allah dan semuanya perkara yang tercela yang merusak akidah seseorang dan ibadahnya. Dan berharap diterimanya amalan disertai rasa takut jika amalannya ditolak menjadikan manusia tawadhu dan khusyu kepada Allah Ta’alaa, sehingga bertambah imannya. Dan apabila rasa berharap telah terwujud maka manusia mengangkat kedua tangannya ke langit memohon kepada Allah supaya amalannya diterima, karena hanya Dia saja yang Kuasa melakukannya, dan inilah yang dilakukan oleh bapak kita Ibrahim kekasih Allah dan putranya Ismail alaihima salam sebagaimana diceritakan oleh Allah Ta’alaa ketika keduanya membangun Kabah seraya berfirman: ( وإذ يرفع إبراهيم القواعد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم)( البقرة:127) Artinya: (Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail seraya berkata: Ya Rabb kami terimalah amalan kami. Sungguh Engkaulah Maha Mendengar, Maha Mengetahui)[QS Al-Baqarah: 127].

7- Diberi kemudahan melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat: Subhanallah, jika Allah menerima ketaatanmu Dia memudahkanmu untuk melakukan amalan lain yang sebelumnya tidak dalam persangkaanmu, bahkan Dia menjauhkanmu dari maksiat meskipun engkau dekat dengannya. Allah Ta’alaa berfirman: (فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى{5} وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى{6} فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى{7} وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى{8} وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى{9} فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى{10}) الليل:5-10). Artinya: (Maka barangsiapa memberikan hartanya dan bertakwa, dan membenarkan pahala yang terbaik, maka kami mudahkan dia kepada jalan menuju kemudahan. Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkannya jalan menuju kesukaran)[QS Al-Lail: 5-10].

8- Mencintai orang-orang shalih dan membenci pelaku maksiat: Termasuk tanda diterimanya ketaatan, Allah memberikan hatimu rasa cinta kepada orang-orang shalih para pelaku ketaatan dan memberikan hatimu kebencian kepada para pelaku kerusakan dan kemasiatan. روى الإمام أحمد عن البراء بن عازب رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن أوثق عرى الإيمان أن تحب في الله وتبغض في الله)). Imam Ahmad rahimahullah telah meriwayatkan dari Barra bin ‘Azib radhiallhu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (sesungguhnya ikatan buhul keimanan yang paling kuat adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah).

 9- Banyak beristighfar: Kalau kita merenungkan kebanyakan ibadah dan ketaatan maka hendaklah menutupnya dengan istighfar karena sejauh manapun manusia bersungguh-sungguh menyempurnakan amalannya pasti ada kekurangan dan kelalaian, sebagaimana setelah kita melakukan manasik haji Allah berfirman: (ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ) (البقرة:199). Artinya: (Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan beristighfarlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang)[QS Al-Baqarah: 199]. Dan sesudah sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk beristighfar sebanyak tiga kali. Dan orang yang melakukan qiyamulail mengakhirinya dengan istighfar di waktu sahur. قال تعالى : (وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ )(الذاريات18) Firman Allah Ta’alaa: (dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah)[QS Adz-Dzariyat: 18]. Dan Allah Ta’alaa mewasiatkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam firman-Nya: (فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ) (محمد:19) Artinya: (Ketahuilah, bahwasanya Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosamu dan kaum mukminin dan mukminat)[QS Muhammad: 19]. Dan Allah memerintahkan juga kepada Nabi-Nya untuk mengakhiri hidupnya dengan ibadah kepada Allah, jihad dijalan-Nya dengan istighfar seraya berfirman: (إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ{1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً{2} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً{3})النصر Artinya: (apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu melihat manusia berbondong-bondong masuk kedalam agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan beristighfarlah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun)[QS An-Nashr]. Dan beliau biasa mengucapkan dalam ruku dan sujudnya ( سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، اللهم اغفر لي) رواه البخاري. Artinya: (Maha Suci Engkau Ya Allah Rabb kami dan dengan memujimu, Ya Allah ampunilah aku) HR Imam Bukhari.

10- Konsisten dalam mengerjakan amal shalih: Diantara petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah konsisten dalam amal shalih sebagaimana dalam hadits: فعن عائشة- رضي الله عنها - قالت: (كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا عمل عملاً أثبته) رواه مسلم. Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengerjakan suatu amalan beliau menetapkannya) HR Imam Muslim. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling konsisten meskipun sedikit. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل). متفق عليه. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit).

Muttafaqun ‘alaihi. Mudah-mudahan Allah Ta’alaa menerima semua amalan kita terutama puasa, qiyamul lail, tilawah, sadaqah kita di bulan Ramadhan.

Sabtu, 11 April 2015

LOVE

Add caption
Kepada sahabat2ku yang ............MASIH SINGLE
Cinta ibarat kupu2. Makin kau kejar, makin ia menghindar. Tapi bila kau biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya. Cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti, tapi cinta itu hanya istimewa apabila kau berikan pada seseorang yang layak menerima. Jadi tenang2 saja, jangan ter-buru2 dan pilihlah yang terbaik.

Kepada sahabat2ku yang ............ RAGU -RAGU DENGAN PERNIKAHAN Cinta bukannya perkara menjadi "orang sempurna"-nya seseorang. Justru perkara menemukan seseorang yang bisa membantumu, menjadikan dirimu menjadi se-sempurnanya.

Kepada sahabat2ku yang ............TIPE PLAYBOY/PLAYGIRL
 Jangan katakan "Aku cinta padamu" bila kau tidak benar2 peduli. Jangan bicarakan soal perasaan2 bila itu tidak benar2 ada. Jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hati. Jangan menatap ke dalam mata bila apa yang kau kerjakan cuma berbohong. Hal terkejam yang bisa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat sama sekali 'tuk menerimanya saat ia terjatuh........

Kepada sahabat2ku yang ............BERTUNANGAN
 Tolak ukur saling mencocoki bukanlah berapa lamanya waktu yang kalian habiskan bersama, melainkan untuk berapa saling baiknya anda berdua. Kepada sahabat2ku yang ............PATAH HATI Sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya dan akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya. Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan hikmahnya.

Kepada sahabat2ku yang ............BELUM PERNAH JATUH CINTA
Bagaimana Kalau jatuh cinta: Mau jatuh jatuhlah tapi jangan sampai terjerumus, tetaplah konsisten tapi jangan terlalu "ngotot", berbagilah dan jangan sekali2 tidak fair, berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut, siap2lah untuk terluka dan menderita, tapi jangan kau simpan semua rasa sakitmu itu.

Kepada sahabat2ku yang ............INGIN MENGUASAI
Hatimu patah melihat yang kau cintai berbahagia dengan orang lain, tapi akan lebih sakit lagi mengetahui bahwa yang kau cintai ternyata tidak bahagia denganmu.

Kepada sahabat2ku yang ............TAKUT MENGAKUI
Cinta menyakitkan bila anda putuskan hubungan dengan seseorang. Itu malah lebih sakit lagi bila seseorang memutuskan hubungan denganmu. Tapi cinta paling menyakitkan bila orang yang kau cintai samasekali tidak mengetahui perasaanmu [terhadapnya].

Kepada sahabat2ku yang ............MASIH BERTAHAN MENCINTAI SEORANG YANG SUDAH PERGI
Hal menyedihkan dalam hidup ialah bila kau bertemu seseorang lalu jatuh cinta, hanya kemudian pada akhirnya menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu dan kau telah menyiakan bertahun2 untuk seseorang yang tidak layak. Kalau sekarangpun ia sudah tak layak, 10 tahun dari sekarangpun ia juga tak akan layak. Biarkan dia pergi, lupakan.......

mBELING

Puluhan tahun bangsa ini mengutamakan formalitas, bukan kualitas dan integritas. Berpuluh tahun para pemimpinnya mengedepankan identitas (citra, pamor diri, sertifikat, label) dan menindas pribadi-pribadi yang berkualitas dan berintegritas. Sertifikasi (identitas dalam standar formalitas) pun menjadi komoditas tersubur bagi pengelola bangsa yang benar-benar menjunjung tinggi martabat keculasan. Nyaris seluruh bentuk sertifikasi di Republik Munafik ini merupakan formalitas belaka, bukan menjadi bukti atas suatu nilai yang pantas diraih hingga tersurat dalam sebuah sertifikat. Sedangkan formalitas itu sendiri bukan suatu prosedur berkualitas-berintegritas, melainkan identik dengan selembar barcode alias bernilai uang.

Bisnis formalitas-sertifikat sangat marak sebab sebagian masyarakat masih mudah diperdaya oleh tipu-muslihat para birokrat mengenai betapa pentingnya selembar bukti formal. Bukti formal bisa mendongkrak sebuah citra. Sebuah citra dianggap merupakan cermin jati diri, termasuk gengsi diri. Dengan citra, harga diri bisa melambung. Dengan melambungnya harga diri, melambung pula harga dirinya secara finansial. Finansial merupakan jantung sebuah bisnis, termasuk bisnis formalitas. Oleh karenanya dalam bisnis formalitas, uang/pembayaran menjadi penentunya. Nilai atas uji kelayakan bisa dibeli, dan keluarlah sertifikatnya. Alangkah mudah memperoleh bukti formalitas jika memiliki modal finansial sesuai dengan nilai formalitas yang diinginkan. Sementara sebagian orang merasa jantungnya bisa berdetak dengan mantap jika citra dirinya dapat tertuang secara formal dalam lembar sertifikat. Arti Tidak heran jika Dengan harga tertentu, sebagian lainnya “membeli” sertifikat formalitas, bukan berupaya sebaik mungkin mendapatkan kelayakan. Kejujuran digempur, digusur, dianggurkan, dan digugurkan.

Keculasan diunggulkan, diagungkan, dan didayagunakan semaksimal mungkin. Kepintaran hanyalah untuk memperkuat kubu keculasan seolah cula bagi seekor badak. Kotbah-kotbah di mimbar agama yang sudah bertebaran di media massa tidak lebih dari upaya memanipulasi realitas! Anak-anak bangsa berebutan mendapatkan formalitas demi sebuah identitas yang sangat prestisiusitas. Untuk mendapatkan itu, anak-anak bangsa berani membelinya karena para pengelola bangsa memang membisniskannya. Kualitas dan integritas pun tidak menjadi penting dan berstandar tinggi. Kemudian, ketika sebagian anak-anak bangsa tersebut berhasil mendapatkannya, lantas meneruskan tradisi bisnis formalitas-identitas seperti yang diajarkan oleh para pendahulunya. Formalitas tidak akan pernah menghasilkan orang-orang cerdas-berkualitas-berintegritas, melainkan orang-orang beridentitas serba culas. Formalitas pun merupakan komoditas yang tiada pernah terbatas pada waktu tertentu; mengalir deras dalam kepentingan orang-orang culas.

Dan orang-orang culas inilah yang mengelola bangsa ini, dan melestarikan formalitas sebagai sebuah komoditas yang lebih menggiurkan daripada minyak dan gas. Begitulah realitas di bangsa ini. Keculasan menjadi suatu karakter yang utama; keculasan menjadi bagian dari martabat. Semakin culas, semakin bermartabat. Tidak culas, tidaklah berguna bahkan membahayakan identitas orang-orang culas. Ya, kesannya, bangsa ini membutuhkan banyak sekali orang pintar, bukan orang jujur. Mudah-mudahan tulisan mbeling ini salah besar.

Sabtu, 13 Juli 2013

Mengapa Shalat Kita Sulit Khusuk

Shalat kita kadang tidak khusuk karena: Kita belum mengenal kecuali sebatas Tuhan, belum mengenal Sifat, Af'al dan Asma-Nya, Dia yang menciptakan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, semua yang kulihat, kudengar, yg bergerak, yang berada dilangit dan dibumi, semua dihidupkan-Nya "Al Muhyi" dan semua akan dimatikan-Nya "Al Mumiitu", semua tunduk dalam kehendak "Al Muriidu" dan kekuasaan-Nya "Al Qodiiru", Dialah yang mengatur semuanya "Ar Robbu", Dialah yang mengusai sekaligus memiliki semuanya "Al Maaliku" (QS3:26-27). Dia Maha Menatap "Al Bashiiru" tahu persis hati, pikiran dan lintasan pikiran kita & DIA Maha Mendengar "As Samiiu" mendengar gesekan daun, langkah semut dan rintihan hati hamba-Nya, Lantas sadarkah kita bahwa Dia yang segala-galanya yang kita hadapi dalam sholat selama ini? Bisakah hati dan pikiran kita lari saat sholat, sementara dia menatap hati pikiran kita? Sahabatku, coba camkan uraian diatas sebelum sholat dimulai, tambah konsentrasi agar kita tetap fokus. Kadang kita sulit khusuk dalam sholat karena: Belum faham makna, hikmah, keutamaan, bacaan dalam sholat, serta syarat dan rukun sholat, maka jadilah "sukaaro" sholat mabuk alias sholat tanpa rasa, tanpa pemahaman, tanpa penghayatan, tanpa keyakinan, hampa, seperti robot jasad tanpa ruh, "alkusaala" malah terasa beban, buru-buru pengen cepat selesai, senan gnya menunda-nunda waktu sholat, gerak sholatnya cepat seperti ayam matok, surah dan bacaan sholatpun komai kamit.

Sahabatku, simaklah Kalam Allah ini, "...Janganlah kalian menegakkan sholat, sedangkan kalian dalam keadaan mabuk, sampai kalian benar-benar faham apa-apa yang kalian baca dalam sholat kalian" (QS4:43).
Lihat orang mabuk berkata berbuat tetapi tidak sadar apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat, lihat orang sholat berdiri, bertakbir, baca ayat, ruku', sujud, tahiyyat dan salam, tetapi tidak sadar bahwa ia sedang berdiri, rukuk sujud menghadap pencipta langit dan bumi... tidak sadar bahwa ia sedang berdialog dengan pencipta dirinya, yang maha menentukan segala-galanya!. Mengapa sulit khusyu' dalam sholat? Karena kita tidak sadar bahwa sholat itu adalah "Almuhadatsah bainal makhluqi wa Khooliqi" dialog hamba kepada Kholiqnya, "Apabila salah seorang dari kalian sholat, sebenarnya ia sedang berkomunikasi dengan Allah" (HR Bukhori Muslim).

Coba perhatikan dari adzan, panggilan waktu menghadap-Nya, yang dipanggilpun yang ber-syahadat, "Asyhaaduallaa ilaaha illallah wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah", yang tidak beriman tidak dipanggil, karena itulah Rasulullah mengingatkan, "Yang membedakan kita dengan orang kafir adalah sholat, maka siapa dengan sengaja meninggalkan sholat maka sunggu ia sudah berperangai seperti orang kafir". Menutup aurat menghadap-Nya, menghadap qiblat karena memang fokus jasad ruh, hati pikiran kepada-Nya, apalagi berjamaah jadi rapi shof, dan seluruh duniapun satu arah qiblat, lalu bersuci karena memang menghadap maha suci, lalu berdiri tegap, takbir, membaca iftitah "inn wajjahtu wajhiyalilldzi fathoros samaawati wal ardho" hamba datang menghadap-Mu duhai pencipta langit dan bumi, tunduk patuh taat pada-Mu... inilah diantara komunikasi sholat yang belum difahami, lantas bagaimana khusuk tanpa kesadaran ini?
Sahabatku... berusahalah terus untuk bisa khusuk! Mengapa sulit khusyuk dalam sholat? Karena masih sedikit kita yang faham bahwa ketika sholat itu adalah proses komunikasi, tatkala membaca Alfatihah terjadi dialog seorang hamba dengan Rabbnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Barang siapa membaca surat al-Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah", lalu Rasulullah menyampaikan ketika seorang hamba berkata, 'Segala puji bagi Allah, tuhan seru sekalian alam". Allah menjawab, "Hamba-Ku telah memuji-Ku". Seorang hamba berkata, 'Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang". Allah menjawab, "Hamba-Ku memuji-Ku". Seorang hamba berkata, ''Raja di hari pengadilan". Allah menjawab, "Hamba-Ku mengagungkan Diri-Ku. Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku". Seorang hamba berkata, 'Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan". Allah menjawab, "Inilah pertengahan antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta Aku berikan". Seorang hamba berkata, 'Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau anugerahkan kepada mereka, bukan mereka yang kena murka dan bukan mereka yang sesat.' Allah menjawab, "Ini milik hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta Aku berikan". (Hadist Qudsi, HR Muslim).

 Karena itu sahabatku, mulailah membaca bacaan sholat pelan-pelan, penuh kesadaran dan keyakinan "Thuma'ninah". Sahabatku, sungguh Allah langsung menjawab setiap ayat yang kita baca... Sahabatku fillah, apakah ada diantara kalian yang masih sulit khusyuk dalam shalat? Mungkin saja berikut ini salah satu penyebabnya: Karena "hubbub dunya" sangat mencintai dunia, "the money is the first and the final of life, no money no happy" sehingga hati dan pikirannya selalu dipenuhi oleh segala sesuatu yang bersifat duniawi, duit, dolar, makan, minum, keluarga, target-target bisnis, berkhayal dan sebagainya. Itulah yang diingat-ingat dalam sholat, Rasulullah bersabda, "hatta yansa kam rok atan laka" sampai ia lupa sudah berapa rakaat ia sudah sholat", maka tidak heran saat sholat yang semestinya hati pikirannya fokus dalam sholat malah ingat dunia. Sahabatku, simaklah kalam Allah surah Al Maa'uun ayat 4 & 5, "celakalah orang-orang yang mengerjakan sholat yang hati pikirannya lalai kepada Allah". Lalai hatinya karena dunia "ball tu'tsiruunal hayaatad dunya" (QS 87:16).

Karena itu sadarilah hidup kita tidak lama di dunia yang fana ini, sholatlah seakan sholat terakhir dalam hidupmu, simaklah sabda Rasulullah, "Bila engkau melakukan sholat maka sholatlah kamu, seperti orang yang akan meninggalkan alam fana" (HR Ibnu Majah & Imam Ahmad).
Adakah diantara kalian yang masih sulit konsentrasi ketika sholat, mungkin salah satu penyebabnya adalah: Karena makan minum yang haram, baik secara zat "lizaatihi" seperti, anjing, babi, alkohol, narkoba dan sebagainya, atau cara mencarinya dengan cara haram, "linailihi", walaupun halal zatnya seperti makan tempe tahu halal tetapi karena cara mencarinya dengan berdusta, menipu, sumpah palsu, terima sogokan, korupsi dan sebagainya, maka tetap haram. Secara fisik ia makan Tempe atau tahu tetapi sebenarnya ia makan anjing dan babi, itulah yang disebut "rijsun min amalisy syaithon". Najis karena amalnya, atau "roddudzdzakaat" karena menolak zakat, maka hartanya bercampur dengan hak faqir miskin, kotorlah hartanya. Semuanya menjadi hijab hati dan hijab hubungan kepada Allah, walhasil sholatnyapun tidak diterima, Allah "Subbuuhun" maha suci hanya menerima yang suci. Ingat komentar Rasul pada orang yang menangis tatkala berdoa, "hampir saja aku mengira doanya diijabah Allah, namun Jibril memberitahuku bahwa orang itu suka menipu, lantas bagaimana Allah menjawab si penipu, pakaian dan makanannya dari hasil menzholimi orang lain?"

Sadarilah saat sholat, kita berhadapan dengan zat yang maha suci!! Jika kalian belum mendapat jawaban mengapa sulit khusyuk dalam sholat? Simak uraian berikut ini: Mungkin karena sholatnya masih disertai "Al fahsyau" berbuat maksiat seperti berdusta, mabuk, buka aurat, berjudi, berzina, dari zina mata melihat yang porno, tangan meraba, pikiran berkhayal sampai zina kemaluan "adzdzunuubu kaafilatul quluubi" dosa dosa ma'siyat itu menjadi "cover" penutup hati. Alwaqi, guru imam Syafii' berkata, "nurullahi la yuhda lil a'shi", sungguh cahaya nur hidayah Allah tidak akan masuk pada hati yang tertutup gelap karena maksiat.

Inilah kebanyakan yang terjadi pada "tukang sholat" bukan "Penegak Sholat", STMJ Sholat Terus Maksiat Jalan, ritual rutinitas tanpa disertai amal yang berkwalitas, hasilnya lagi-lagi kosong, tidak ada "atsar" pengaruh, ini sekaligus menjadi jawaban mengapa ada orang sholat tetapi sulit khusyu' Bagaimana bisa khusyuk kalau maksiat jalan terus. Imam Ghazali berkata, "Sungguh, sekali dusta sudah cukup membuat sholatnya terhijab kepada Rabbnya. Saudaraku yang Seiman, SubhanAllah, maafkan kalau yang aku sampaikan ini membuat kalian tidak nyaman, mudah-mudahan Allah terus membimbing kita dengan hidayah-Nya sehingga semakin dekat dengan kematiaan semakin baik ibadah sholat kita...aamiin.

Jika hati kita tidak bersih, memang sulit untuk konsentrasi sholat. Inikah diantara yang membuat kaliat sulit khusuk ketika sholat? Karena sholatnya disertai "al mungkar", berbuat zholim, menganiaya, menipu, menggunjing, memfitnah, merendahkan orang lain, menghina, memukul apalagi sampai membunuh orang lain. Itu semua akan menjadi hijab besar, karena Allah hanya menerima ibadah yang membuat hamba itu menghinakan diri dihadapan-Nya dan yang membuat dirinya rendah hati. Sholat kalian akan dianggap dusta kalau tidak memperhatikan yatim piatu dan faqir miskin (QS 107:1-3).
"Cuek, masa bodoh, pelit, emangnya gue pikiran" dan sebagainya sudah cukup dianggap pendusta sholat, pendusta agama apalagi sampai berbuat aniaya, dan ini semua bukan akhlak hamba Allah yang sholat, orang sholat itu belas kasih, santun, pemaaf, murah senyum, dermawan dan rendah hati, sungguh mulia akhlak hamba yang khusuk sholat itu sahabatku..

Mengapa sulit khusuk dalam sholat?
Karena "goirul isti'daadi" tidak mempersiapkan diri secara maksimal menghadap Allah, seperti pakaian kurang bersih, kurang rapi padahal ada pakaian bersih dan rapi, mukena yang bau apek atau badan yang masih kotor padahal masih bisa membersihkan, atau tempat ibadah kurang bersih, atau dengan sengaja mengulur waktu sholat.
Imam Ghazali berkata, "Siapa dengan sengaja mengulur waktu sholat tanpa alasan yang dibenarkan secara Syar'i maka sungguh setengah kekhusukan telah hilang dari sholatnya". Berarti orang yang memperhatikan sholat diawal waktu itu sungguh telah meraih setengah kekhusukan. Kemudian membiarkan diri tidak faham sholat dengan tidak mau meningkatkannya untuk belajar, akhirnya sholat hanya sekedarnya maka hasilnyapun sekedarnya, tidak heran sholatnya tidak berpengaruh dalam kesehariannya.
Sahabatku, tentu sangat beda hasilnya mereka yang sungguh-sungguh belajar dan mempersiapkan diri untuk sholat dengan yang sekedarnya, atau malas sholat.

Selasa, 08 Januari 2013

Ujian Kejujuran

Kejujuran adalah moral utama manusia beriman. Entah akan beresiko menjadi beruntung ataupun sebaliknya, seharusnya prinsip berlaku jujur harus ditegakkan. Apapun hasil yang diterima.

Sangat mungkin terjadi, seorang mahasiswa yang jujur kepada dosennya bahwa ia telah melakukan menyontek. Akan diberikan ucapan atas kejujuran tetapi tetap saja menjadi tidak lulus, karena dalam kontrak pengajaran memang sudah disepakati. Yang nyontek maka tidak lulus.

Seorang pedagang berlaku Jujur. Dagangannya malah menjadi kurang laku dan dia tidak disukai penjual sekitarnya. Padahal kalo dia mau ikuti kebiasaan pedagang lainnya, ia akan membawa untung yang lebih banyak.

Seorang Polisi sederhana yang jujur. Dia tidak disukai rekan-rekan sejawatnya, karena tidak mau terlibat dalam usaha-usaha yang berbau korup. Padahal jika dia mau ikut saja atau minimal menyetujui kekotoran itu, maka uang dan harta akan mudah mengalir.

Sobat, jujur terkadang memang tidak nyaman. Tetapi melahirkan ketentraman. Jujur sering dihadapi dengan hati yang ‘sulit’ terutama ketika bertemu situasi dengan pilihan instant untung rugi, dipuji dimarahi dan berbagai kondisi yang tidak mengenakkan.

Membaca dan merenungi ayat dibawah ini, QS. At Taubah (9) : 118. Mengingatkan diri kita, bahwa sebuah kejujuran tidak harus selalu beruntung tetapi butuh proses panjang untuk memperoleh ujung yang membahagiakan. Dan itu adalah bagian dari seleksi ujian dari Allah, sehingga akan ter-eliminasi orang-orang yang tidak serius dalam beriman, palsu dalam bertaubat.
Dan akan melahirkan pribadi-pribadi istimewa yang benar-benar tangguh dalam menggengam sifat-sifat wajib manusia beriman, dimana Kejujuran adalan salah satunya. وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Dan terhadap tiga orang[665] yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, Padahal bumi itu Luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.
Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [665] Yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi’. mereka disalahkan karena tidak ikut berperang. Inilah kisah sahabat yang mulia tersebut : Ka’ab bin Malik adalah salah seorang sahabat Nabi yang mendapat anugerah Allah berupa kepiawaian dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan. Kemampuan sebagai penyair ini, mengantarkannya menduduki posisi khusus di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, yaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Ka’ab bin Malik termasuk pemuka sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan kunyahnya (panggilan) Abu Basyir. Kisah kejujuran Ka’ab bin Malik ini, berawal saat Rasulullah telah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Beliau memobilisasi para sahabat untuk tujuan itu. Kaum rnuslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.

Di tengah kesibukan kaum muslimin melakukan persiapan, ada seorang sahabat yang belum memulainya. la bernama Ka’ab bin Malik. Kali ini, Allah hendak mengujinya dengan perang Tabuk. Pada masa tuanya, Ka’ab bin Malik menuturkan kisahnya kepada putranya : “Aku tidak pernah absen dalam satu peperangan pun bersama Rasulullah kecuali dalam perang Tabuk dan perang Badr. Tatkala Rasulullah berangkat bersama pasukan, aku masih terlambat dan belum sempat melakukan persiapan. Batinku berharap, aku bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahku benar- benar terhambat. Kesedihanku bertambah, ketika aku tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya”. Saat Rasulullah tiba di Tabuk, Beliau bertanya: “Apa yang terjadi dengan Ka’ab?” Seorang laki-laki dari kaumku dengan kiasan menjawab,”Baju kesayangannya telah menahannya”. Namun Mu’adz menangkisnya,”Sungguh buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali baik saja”. Rasulullah terdiam. Ketika Rasulullah, kembali dari peperangan, orang-orang yang absen segera menemui Beliau, untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlah mereka delapan puluh orang lebih. Rasulullah pun menerima alasan-alasan mereka dan memohonkan ampun bagi mereka. Sempat terbesit dalam benakku untuk mengajukan alasan dusta kepada Beliau, agar aku selamat dari kemarahan Beliau. Namun kuurungkan niatku dan kubulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Beliau. Aku mengucapkan salam kepada Beliau, Beliau tersenyum kecut kepadaku. Beliau berkata,”Kemarilah!” Aku pun mendekat dan duduk di hadapan Beliau. Beliau bertanya kepadaku,”Apa yang menahanmu? Bukankah engkau telah mempertaruhkan punggungmu?” Aku menjawab,”Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, lantaran aku ahli berjidal (pandai bicara). Namun aku sungguh mengetahui, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepada engkau. Aku mengatakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu.” Beliau berkata,”Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu,” aku pun berdiri dan meninggalkan Beliau. Sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejarku seraya berkata,”Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan dosa sebelum ini. Mengapa engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh, permohonan ampun Rasulullah untukmu akan menghapus dosamu.” Mereka terus membujukku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah dan berdusta kepada Beliau. Aku bertanya kepada mereka,”Adakah orang yang mengalami hal yang sama sepertiku?” Mereka menjawab,”Ada! Dua orang laki-laki yang mengatakan alasan seperti alasanmu. Dan Rasulullah mengatakan perkataan yang sama kepada mereka, seperti yang Beliau katakan kepadamu.” Aku bertanya,”Siapa mereka?” Mereka menjawab,”Murarah bin Ar Rabi’ Al ‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi.” Mereka adalah dua orang sahabat yang ikut dalam perang Badr dan pada diri mereka terdapat suri tauladan. Aku pun berlalu meninggalkan mereka. Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku. Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. “Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?” tanya hatiku. Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku. Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, “Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?” la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan. Aku berlalu. Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar itu bertanya kepada orang- orang: “Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?” Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu: “Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan rnenolongmu”. Aku berkomentar,”lni pun cobaan untukku,” lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku api. Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah dan para sahabat mengisolasi kami, tiba-tiba datang utusan Beliau dengan membawa perintah agar aku enjauhi istriku. Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kulakukan?” Sang utusan menjawab,’Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh.” Aku berkata kepada istriku, “Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.” Keadaan seperti itu terus berlanjut. Hingga tibalah suatu pagi selepas aku shalat shubuh. Kondisiku saat itu seperti yang ijak seakan tak kukenali lagi. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak: “Wahai, Ka’ab bin Malik! Berbahagialah!” Aku pun segera menghaturkan syukur dengan sujud kehadiratNya. Sungguh telah datang jalan keluar bagi kami. Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat Shubuh. Allah telah menerima taubat kami. Orang-orang berbondong-bondong menemui kami dan mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaanku saat itu. Aku memberikan dua baju yang kukenakan kepada laki-laki yang datang membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu, aku tidak memiliki baju selain kedua baju itu. Oleh karena itu, aku meminjam baju dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah. Saat itu Beliau dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku, kemudian ia menggamit tanganku dan menyalamiku seraya mengucapkan selamat untukku. Sungguh, tidak ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang ia lakukan, hingga aku pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu. Aku pun masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Saat itu wajah Beliau berseri-seri dan bersinar bak rembulan. Tatkala aku sudah duduk di depan Nabi, Beliau berkata: “Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu”. “Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?” tanyaku. Beliau menjawab, “Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari sisi Allah.” Aku berkata kepada Beliau: “Wahai, Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku, aku sedekahkan hartaku di jalan Allah”. Beliau berkata, “Tahanlah sebagian hartamu untuk dirimu, karena itu lebih baik bagimu.” Aku mentaati perintah Beliau dan berkata: “Kalau begitu, aku tahan anak panahku yang kugunakan dalam perang Khaibar. Dan sungguh Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran. Maka sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur”. Sungguh, aku tidak mengetahui ada orang lain yang mendapat ujian kejujuran seperti Allah mengujiku. Hingga sampai saat ini, aku tidak pernah bicara dusta satu kali pun sejak berjanji kepada Rasulullah. Dan aku morion kepada Allah agar menjagaku pada sisa umurku ini”. Demikianlah sosok Ka’ab bin Malik. Seorang mujahid di jalan Allah dengan pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang menyempitkan hatinya. Dijalaninya sisa hidupnya dengan selalu menggenggam kejujuran. Pada masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Dan putranya, Abdullah yang menjadi pemandu sejak Allah menghilangkan penglihatannya. Ka’ab bin Malik wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair Rasulullah ini. ***** Semoga sosok Ka’ab yang jujur , pemberani dan sabar menanggung resiko tersebut menular kepada bangsa ini. Bayangkan, alangkah mudahnya andai : Beliau berbohong saja, maka ia akan selamat (baca:sementara) seperti orang-orang munafik lainnya. Atau menerima tawaran dari utusan Raja Ghassan, bukankah akan dimulyakan jikalau dia mau berpindah kesana. TETAPI dengan SEMANGAT baja tetap memilih JUJUR, dan BERSABAR dalam menjalani proses TAUBAT dan memilih Allah dan Rasul-Nya sehingga selamat di Akherat dan di dunia. InsyaAllah. Apakah kita berani menirunya?? Salam Kerja Keras Selalu berfikir Positif Sukses untuk Anda